Wednesday, July 2, 2014

Muslim di Inggris, Puasa 19 Jam Setiap Hari


Para Muslim di Inggris dan Eropa, merasakan puasa terpanjang, pada Ramadhan tahun ini. Sekitar 19 jam, mereka harus menahan lapar dan dahaga.

Bulan Ramadhan kali ini memang jatuh pada musim panas, sehingga umat Muslim di Inggris, baru dapat berbuka puasa dan sholat maghrib pada 21.25. Untuk sholat Tarawih dilakukan setelah sholat Isya, sekitar pukul 23.00, lalu imsak pada pukul 02.45.

Sejak 1982, ini merupakan Ramadhan pertama yang bertepatan dengan akhir Juni, disejumlah negara Eropa. Meski begitu, beberapa warga Inggris mengaku tetap berpuasa dan tak akan mengurangi waktu puasa mereka.

''Ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan kebaikan,'' kata seorang warga Inggris, seperti dilansir dari BBC.

Seorang warga Inggris yang berprofesi sebagai dokter di Shropshire, Dr Waseem Aslam, menambahkan, berpuasa dari mulai terbit fajar sampai matahari tenggelam juga bermanfaat bagi kesehatan.

Waseem Aslam menjelaskan, berpuasa tak dilakukan selama 24 jam, sehinhha kondisi kesehatan fisik serta mental, tetap terjaga. ''Bagi saya yang berprofesi sebagai dokter saya harus tetap melakukan pekerjaan saya dalam kondisi kesehatan fisik dan mental yang baik,'' ujarnya.

Abdullah Saif dari Asosiasi Muslim Inggris mengatakan, puasa tak wajib bagi orang hamil, menyusui, sakit dan mereka yang melakukan perjalanan. Sampai sekarang, jumlah Umat Muslim di Inggris tercatat sekitar 2,8 juta orang.

Tuesday, July 1, 2014

Ladybird, Robot Bertenaga Surya yang Diciptakan untuk Membantu Petani di Ladang



Pekerjaan di sawah merupakan salah satu jenis mata pencaharian yang berat. Terlebih di sana dibutuhkan banyak tenaga kasar untuk mengolah ladang dan sawah sehingga bisa ditanami tanaman. Namun di luar negeri, pengolahan sawah tak hanya melibatkan manusia, namun juga turut mempekerjakan robot canggih.

Salah satu robot yang secara khusus dibuat untuk membantu para petani adalah Ladybird. Robot ini merupakan sebuah robot yang dibuat dengan menggunakan tenaga dari pancaran sinar matahari. Ladybird ini pun merupakan hasil dari proyek penelitian senilai 1 juta USD dari Universitas Sydney di Australia.


Robot ini mempunyai bentuk yang sangat besar. Tubuh besar robot tersebut ditutupi oleh sel surya yang digunakan untuk memanen pancaran sinar matahari. Selanjutnya, energi yang dikumpulkan dari sel surya itu digunakan untuk menggerakkan robot.

Robot Ladybird ini didesain untuk bisa melakukan berbagai hal. Di antaranya adalah membantu serta memonitor hasil panen sayuran. Robot ini bisa berjalan secara otomatis dengan menggunakan laser sebagai panduan. Sensor pada robot ini juga mampu mendeteksi kondisi sayuran dan jenis hama. Sebagai tambahan, robot ini mempunyai lengan yang bisa digunakan untuk mencabut rumput dan sebagainya.

Jumlah Komentar, Like serta Posting Berbau Piala Dunia FIFA 2014 Mencapai Angka 1 Milia



Twitter telah mengungkapkan secara gamblang pencapaiannya selama ajang Piala Dunia FIFA 2014 di Brazil. Mereka mengungkapkan kalau selama ajang tersebut berlangsung telah ada tweet sebanyak 300 juta dan rekor tweet per menit sebesar 388 ribu lebih. Dan kini, seolah tak mau kalah, jejaring sosial Facebook mengungkapkan fakta serupa.

Jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg tersebut mengungkapkan kalau selama Piala Dunia 2014 berlangsung, telah ada interaksi sebanyak 1 miliar. Interaksi yang dimaksudkan tersebut adalah posting, komentar serta jumlah like yang terjadi dalam rentang waktu antara 12 hingga 29 Juni dan yang berkaitan dengan Piala Dunia.



Facebook mengatakan kalau Piala Dunia kali ini terbukti menjadi momen yang sangat menarik bagi para penggunanya. Dan yang paling mendominasi interaksi di Facebook tersebut adalah pertandingan antara Brazil dan Chile. Pertandingan antara dua negara asal Amerika Latin itu melibatkan sebanyak 31 juta pengguna dengan jumlah interaksi mencapai 75 juta.

Pada momen piala dunia tahun ini juga terungkap kalau Brazil menjadi negara yang paling difavoritkan oleh para facebooker. Hal ini terbukti dengan adanya interaksi terkait Brazil yang melibatkan sebanyak 58 pengguna dengan jumlah interaksi mencapai angka 140 juta. Tak hanya itu, foto Neymar dan Hulk juga menjadi yang paling banyak disukai dengan jumlah mencapai angka 25 juta dan dibagikan sebanyak 70 ribu kali.

Tablet Android Pertama Dunia yang Menggunakan Prosesor Octa Core Allwinner Resmi Diperkenalkan



Saat ini cukup banyak prosesor octa core untuk perangkat mobile yang bisa dijadikan pilihan oleh para produsen. Salah satunya adalah prosesor octa core Allwinner A80-T yang bisa dijadikan pilihan untuk memproduksi sebuah perangkat murah. Dan kini, tablet pertama dunia dengan prosesor ini telah secara resmi diperkenalkan kepada publik bernama Onda V989.

Tablet ini merupakan sebuah tablet Android dari Cina yang mempunyai layar berukuran 9,7 inci dengan resolusi 2048 x 1536 piksel. Prosesor Allwinner A80-T pada tablet ini terdiri dari 4 core prosesor ARM Cortex A15 dan 4 core ARM Cortex A-7 dan dilengkapi grafis PowerVR G6230. Selanjutnya, tablet ini juga mempunyai RAM sebesar 2GB.

Di bagian belakang, terdapat kamera utama 8MP dan kamera depan 2MP. Tablet ini bisa digunakan untuk memainkan video 4K serta mendukung Miracast, WiFi, serta Bluetooth. Untuk sistem operasinya, Onda V989 ini hadir dengan OS Android KitKat 4.4 dan siap meluncur ke pasaran dengan banderol sebesar 177 USD atau setara 2 juta rupiah.

Lakukan Eksperimen Diam-Diam, Facebook Dikritik



Facebook sedang menuai kritik dari sebagian besar pengguna. Perusahaan jejaring sosial asal AS itu baru saja diketahui sempat melakukan eksperimen diam-diam melibatkan hampir 700 ribu pengguna selama sepekan di tahun 2012. Dalam tes tersebut Facebook memanipulasi news feed untuk mengontrol ekspresi emosional yang dipaparkan oleh pengguna.

Seperti dilansir BBCNews, Facebook mengatakan tidak ada pengumpulan data pengguna yang tidak perlu. “Tidak ada data yang digunakan yang dikaitkan dengan akun Facebook orang tertentu.” kata raksasa jejaring sosial tersebut.

Dalam penelitian ini, Facebook berkolaborasi dengan dua universitas di Amerika Serikat untuk mengukur apakah emosi yang dipaparkan akan mengubah perilaku seseorang dalam memposting. Universitas tersebut adalah Universitas Cornell dan Universitas California di San Fransisco.

Beberapa pihak mengkritik cara penelitian itu dilakukan dan menekankan dampak yang dapat terjadi dari penelitian tersebut.

“Mari kita sebut eksperimen Facebook sebagai sebuah gejala kegagalan berpikir yang lebih luas tentang etika, kekuatan, dan persetujuan pada platform.” kata Crawford di Twitter.

Lauren Weinstein juga berkicau di Twitter, “Facebook diam-diam melakukan eksperimen terhadap pengguna untuk mencoba membuat mereka sedih. Apa yang mungkin salah?”

Sementara itu, Jim Sheridan dari Partai Buruh yang juga anggota media Commons membuat sebuah komite untuk melakukan investigasi. “Ini hal luar biasa dan jika tidak ada undang-undang mengenai ini, maka seharusnya ada yang melindungi masyarakat.” kata dia seperti dikutip Guardian.

“Mereka memanipulasi materi dalam kehidupan pribadi seseorang dan saya khawatir tentang kemampuan Facebook dan media lain untuk memanipulasi pemikiran orang dalam politik dan area lain. Jika pikiran seseorang dikontrol dengan cara ini, harus ada perlindungan dan mereka paling tidak tahu tentang hal tersebut (manipulasi yang dilakukan).”

Pendapat lain datang dari seorang profesor psikologi di Perguruan Tinggi Elmhurst, Illinois, Katherine Sledge Moore. Moore mengatakan, “Berdasar apa yang dilakukan Facebook dengan newsfeed sepanjang waktu tersbut dan berdasar apa yang telah kita sepakati untuk bergabung dengan Facebook, penelitian ini tidak terlalu luar biasa.”

“Hasilnya pun tidak begitu berbahaya atau mencengangkan. Maaf sekali.” lanjut Moore

Adam Kramer yang merupakan co-author penelitian tersebut berkilah dan mengatakan, penting untuk menginvestigasi kekhawatiran umum, bahwa ketika melihat isi postingan teman yang positif membuat orang merasa negatif atau bahkan ditinggalkan. Di saat yang sama kami menemukan bahwa paparan negatif teman bisa membuat orang menghindari membuka Facebook. ”

Walau demikian, Facebook mengakui mereka tidak mencantumkan motivasi mereka dengan jelas dalam eksperimen tersebut dan segera meminta maaf. “Saya bisa memahami mengapa orang mengkritik hal ini, dan kami sangat menyesal atas cara pelaporan penelitian tersebut dan kecemasan yang disebabkannya.“

Teknologi Lampu Pintar Bisa Dikendalikan Smartphone



General Electric perusahaan multinasional teknologi asal Amerika, menciptakan lampu pintar (Smart Light) yang dapat dikendalikan dengan smartphone. Dijuluki sebagai "Link", lampu pintar ini dikabarkan dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau.

Teknologi ini sebenarnya adalah bagian dari smarthome (rumah pintar) untuk masa depan. Lampu ini dapat dikontrol dari jarak jauh melalui sebuah aplikasi pada smartphone dan dapat diatur kecerahan sinarnya sesuai suasana hati penggunanya.

Sebelumnya Philips juga telah membuat teknologi lampu serupa pada 2012, yang dijual sekira USD199 (sekira Rp2,3 jutaan). Tetapi GE (General Electric) lalu membuat inovasi berbeda sehingga bisa membanderol bola lampunya hanya seharga US15 (sekira Rp180 ribu) saja.

Dengan teknologi ini, pengguna akan mampu mengontrol lampu rumahnya dengan lebih leluasa, misalnya ketika lupa mematikan lampu saat sedang bepergian, maka dapat dilakukan dari jarak dengan smartphone. Link dapat dikendalikan dengan aplikasi smartphone bernama Wink seperti disitat melalui Ubergizmo, Senin (30/6/2014).

General Electric mengatakan lampu tersebut akan mulai tersedia melalui situs Web Home Depot mulai Senin mendatang. Kemudian akan mulai dipasarkan kepada sejumlah outlet pada musim gugur tahun ini.

Monday, June 30, 2014

Misteri di Balik Sengatan Ikan Berdaya Listrik




Para ilmuwan menemukan rahasia di balik ikan berdaya listrik. Mereka menggunakan studi genetik untuk mengungkap bagaimana makhluk eksotik itu mengembangkan organ yang bisa melepaskan sengatan listrik.

Para peneliti pada Kamis (26/6) mengungkap cetak biru dan data rinci genetik belut listrik --penghuni perairan Amerika Selatan yang menakutkan dan bisa menyengat dengan medan listrik sampai 600 volt -- serta dua jenis ikan berdaya listrik yang lain.

Meski enam kelompok ikan berdaya listrik telah secara mandiri berevolusi jauh dari tempat asalnya seperti air berlumpur Amazon dan lingkungan laut keruh, mereka semua tampaknya mencapai "kotak perangkat genetik" yang sama untuk mengembangkan organ pembangkit listrik mereka, kata para peneliti.

Hasil studi baru yang dipublikasikan di Jurnal Science menunjukkan bahwa beragam ikan berdaya listrik bergantung pada gen dan jalur biologis sama untuk membangun organ listrik mereka dari otot rangka terlepas dari perbedaan penampakan dan lokasi dari organ mereka.

Kemampuan elektrik mereka menjadi satu keajaiban alam bersama kemampuan khas seperti bioluminesensi pada beberapa serangga dan makhluk laut serta ekolokasi pada kelelawar dan paus.

"Ini sungguh sesuatu yang unik di kerajaan binatang," kata Profesor zoologi di Michigan State University, Jason Gallant, seperti dilansir kantor berita Reuters.

Profesor biokimia di University of Wisconsin Michael Sussman mengungkapkan kekaguman sama. Ia menambahkan, "Ini hanya ada pada ikan karena air adalah penghantar listrik sementara udara tidak. Dengan demikian, burung-burung atau binatang darat tidak akan memiliki ini."